estetika
dan nilai historis
benda Pusaka

Koleksi Warisan Benda Pusaka

Peninggalan warisan pusaka dari peninggalan para raja dan pangeran Kerajaan Sumedang Larang memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Secara estetika memiliki ornamen yang sangat indah dengan desain dan ukiran yang dibuat oleh para Mpu dan seniman di zamannya. Setiap benda pusaka memiliki fungsi dengan berbagai tujuan, baik digunakan sebagai senjata maupun lambang status sosial bagi para pemiliknya.

Cariosan
prabu
siliwangi

Naskah Kuno Cariosan Prabu Siliwangi

Merupakan tulisan yang menceritakan Prabu Siliwangi yang dibuat pada awal abad ke 17 tahun 1675 Masehi. Ditulis dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno diatas kulit kayu dengan keadaan fisik yang sudah lapuk. Terdapat puluhan koleksi naskah kuno yang terdapat di perpustakaan Museum Prabu Geusan Ulun sebagai peninggalan karya intelektual yang menceritakan tentang sejarah dan budaya.

pesona
arsitektur
sri manganti

Gedung Sri Manganti

Merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang dibangun tahun 1706 hingga 1709 pada masa pemerintahan Dalem Adipati Tanumaja. Gedung Sri Manganti awalnya dijadikan sebagai tempat tinggal dan kantor oleh para Bupati Sumedang tempo dulu.

Megahnya
Kereta Kencana
Naga Paksi

Kereta Kencana Naga Paksi

Merupakan kendaraan raja tempo dulu yang terbuat dari bahan kayu dan ornamen ukiran yang indah dengan memiliki simbol kebesaran dan kegagahan. Kereta Kencana Naga Paksi yang terdapat di Museum Prabu Geusan Ulun dibuat pada masa Pangeran Soeria Koesomah Adinata ( Th. 1836-1882 ).

Objek Museum :

next

Tampilan Objek Museum 3 Dimensi

Rasakan pengalaman baru dalam memahami objek koleksi pilihan museum melalui animasi 3 Dimensi.

Melalui fasilitas ini Anda dapat lebih memahami dari sisi estetika dan makna yang dikandung oleh setiap objek koleksi museum yang ditampilkan.

Telusuri Jejak Sejarah dan Warisan Budaya Sumedang Larang !

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII.

Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.

Baca Selengkapnya

Kerajaan Pajajaran yang masih berkaitan erat dengan kerajaan sebelumnya yaitu Kerajaan Sunda-Galuh, namun keberadaan Kerajaan Pajajaran berakhir di wilayah Pakuan, Bogor, karena serangan aliansi kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang Larang dianggap menjadi penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.

  • Kuda Renggong

    Kuda Renggong merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang berasal dari Sumedang. Kata “renggong” di...

  • Seni Tari Tayub

    Tari Tayub dalam perkembangannya banyak mengalami pasang surut. Berawal dari kebiasaan kaum bangsawan atau para...

  • Seni Tarawangsa

    Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Istilah “Tarawangsa” sendiri...

Museum Virtual Tour

Kunjungi Museum Prabu Geusan Ulun dari tempat Anda !


Kalender Kegiatan

Tampilkan Jadwal
Kalender Kegiatan
di Museum Prabu Geusan Ulun !


Kunjungan Museum Geusan Ulun:

Jl. Prabu Geusan Ulun No.40B
Gd. Srimanganti,
Sumedang – Jawa Barat Indonesia
Telp : +62 261 201714
e-mail:
info@museumprabugeusanulun.org

SELASA – MINGGU:
8.00 – 16.00 WIB

HARI SENIN & JUMAT TUTUP