Napak Tilas Kerajaan Sumedang Larang

Prabu Gajah Agung

Kisah awal Prabu Gajah Agung sangat mirip kisah awal Kerajaan Mataram menurut versi Babad Tanah Jawi tetapi melihat masa pemerintahannya Prabu Gajah Agung pada tahun 839 sedangkan Ki Ageng Pamanahan tahun 1582 jelas terlihat waktu yang sangat berbeda. Menurut kisah Babad Tanah Jawi itu Ki Ageng Sela memetik dan menyimpan buah kelapa muda sementara Ki Ageng Sela pergi, datanglah Ki Ageng Pamanahan yang kemudian meminumnya, yang akhirnya Ki Ageng Pamanahan menjadi Raja Mataram sedangkan dalam Babad Darmaraja ketika Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja.  Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke puncak Gunung Nurmala (sekarang Gunung Lingga).

batu benteng smd larang

Benteng bekas Ibu Kota Sumedang Larang di Geger Sunten Masa Prabu Gajah Agung

Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Ketika ujian berlangsung Prabu Lembu Agung pergi sementara tinggallah Gajah agung seorang diri , panas sinar matahari membuat Prabu Gajah Agung sangat kehausan, karena tak kuat menahan rasa dahaga kemudian ia membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Sumedanglarang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara (Darma Ngarajaan) yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela.

Sehingga daerah bekas Prabu Lembu Agung disebut Darmaraja.  Setelah itu Kerajaan Sumedanglarang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi dan membangun sarana keagamaan Mandala Kawikan disebut Karang Kawikan sebagai sarana ritual gaib di kabuyutan Gunung Lingga.

keris ki dukun

Keris Ki Dukun

Selain itu juga mendirikan beberapa padepokan di Gunung Rengganis, Gunung Cakrabuana, Gunung Tampomas dan Gunung Jagat . Prabu Lembu Agung dan para keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun putera ketiga Prabu Tajimalela dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes. Setelah wafat Prabu Lembu Agung dimakamkan di Astana Gede terletak di Kampung Astana Gede Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja Sumedang, tidak jauh dari Situs Cipeueut makam Prabu Guru Haji Aji Putih. Akhirnya Prabu Tajimalela menunjuk Atmabrata yang dikenal sebagai Prabu Gajah Agung (893 – 998) sebagai raja Sumedanglarang ketiga, periode pemerintahan kedua keturunan Prabu Tajimalela lebih kepada karesian dari pada keprabuan. Setelah Prabu Gajah Agung menerima keputusan dari ayahnya sebagai raja Sumedanglarang dan diperintahkan untuk mencari tempat sendiri untuk mendirikan Ibukota baru Sumedanglarang.

Setelah beberapa lama berjalan ke arah barat menyusuri sungai Cipeles sampailah Prabu Gajah Agung di daerah Geger Sunten (sekarang dikenal sebagai kampung Ciguling), daerah tersebut banyak ditumbuhi pohon Ki Menyan dan terdapat sebuah batu besar yang berdiri (nangtung).

Prabu Gajah Agung merasa sedih karena tidak bisa mengalahkan musuhnya kemudian Prabu Gajah Agung bersemedi mohon petunjuk kepada Yang Maha Tunggal tidak beberapa lama kemudian terdengar suara ayahnya Prabu Tajimalela yang perintahkan Gajah Agung untuk menghancurkan sebuah batu didepannya. Setelah batu tersebut dihancurkan dari dalamnya terdapat sebuah keris yang bernama Ki Dukun.

Comments are closed.