Napak Tilas Kerajaan Sumedang Larang

Prabu Pagulingan

 

tebing bentang alam

Tebing Bentang Alam Cadas Gantung Geger Sunten di Ciguling

Ciguling merupakan bekas Ibukota Sumedanglarang terlama sejak masa pemerintahan Prabu Gajah Agung tahun 893 sampai masa pemerintahan Nyi Mas Patuakan tahun 1530, mulai dari Dsn. Ciguling 1 Kelurahan Pasanggrahan sampai terbentang sampai bukit Geger Hanjuang di Dsn. Ciguling 2 Desa Margalaksana . Bentuk Situs Ciguling merupakan teras berundak pada teras paling bawah terdapat Sungai Cipeles dan jalan raya Sumedang dan Bandung, pada teras kedua terdapat permukiman warga dan teras teratas terdapat bentang alam batu Cadas Gantung Geger Sunten Ciguling.

Setelah Prabu Gajah Agung wafat digantikan putranya bernama Wirajaya atau Jagabaya atau dikenal sebagai Prabu Pagulingan (998 – 1114) kemudian menjadi raja Sumedanglarang keempat. Prabu Pagulingan adalah ahli strategi perang tercermin dari gelar “Manggala Wirajaya Jagabaya” ( Manggala = keturunan, Wira = pejuang, Jaya = unggul, Jaga = menjaga, Baya = marabahaya) .

Pejuang diartikan bukan hanya orang yang terlibat dalam peperangan tetapi lebih dari pejuang yang mampu memerangi hawa nafsu dalam dirinya. Manusia yang kuat adalah manusia yang mampu memerangi hawa nafsunya sendiri.

Dalam melaksanakan pemerintahannya Prabu Pagulingan dibantu oleh Patih Singakerta. Pada masa pemerintahannya golongan resi dan pemuka adat harus mengembangkan arti Kasundaan (Sunda artinya suci).

Pusat pemerintahan Prabu Pagulingan berkedudukan di Ciguling dalam Carita Ratu Pakuan disebut Dayeuh Pagulingan. Pada masa itu bala tentara Prabu Pagulingan terkenal tangguh dalam bertempur, daerah Ciguling yang dikelilingi oleh benteng pertahanan alam yang baik, waktu beberapa gunung seperti bukit Nangtung (sebelah utara Ciguling) dan bukit Pasir Reungit (sebelah timur Ciguling) digunakan sebagai benteng pertahanan.

kota smd cadas gantung

Kota Sumedang dilihat dari Cadas Gantung

Tebing Cadas Gantung Geger Sunten digunakan untuk memperhatikan daerah Ciguling sekitarnya termasuk arah kota Sumedang sekarang, bukit Nantung digunakan oleh para Gulang-gulang (senapati) Prabu Pagulingan sebagai pusat (base camp) prajurit Sumedanglarang dan Pasir Reungit (batu Nantung) digunakan sebagai tempat peristirahatan raja-raja Sumedanglarang waktu itu, dalam legenda masyarakat setempat Pasir Reungit disebut juga sebagai tempat Pamoean (tempat berjemur).

Pada masa Prabu Pagulingan kerajaan Sumedanglarang mendapat serangan dari balatentara kerajaan Subang tetapi berhasil ditahan oleh prajurit Sumedanglarang. Setelah wafat Prabu Pagulingan dan Singakerta dimakamkan di Kampung Nantung Ds. Ciherang Kec. Sumedang Selatan.

Setelah wafatnya Prabu Pagulingan kedudukannya digantikan oleh putranya Mertalaya atau dikenal sebagai Sunan Guling / Rajamukti Purbakawasa (1114 – 1237) sebagai raja Sumedanglarang kelima.

Pada masa Sunan Guling bangunan Karaton Sumedanglarang dipindahkan ke daerah Geger Hanjuang di Dsn. Ciguling 2 Desa Margalaksana Kecamatan Sumedang Selatan sebelumnya berada di Geger Sunten sedangkan pusat Ibukota masih di daerah Ciguling.

Karaton Sumedanglarang di Geger Hanjuang sampai masa Ratu Nyi Mas Patuakan
(1462 – 1530).

Sunan Guling merupakan raja Sumedanglarang terlama memerintah + 123 tahun  dalam masa pemerintahannya banyak peristiwa terjadi salah satunya perebutan kekuasaan di Sunda Pakuan. Sunan Guling di makamkan di Geger Hanjuang . Sunan Guling mempunyai tiga putra; Tirta Kusuma dikenal sebagai Sunan Tuakan, Jayadinata dan Kusuma Jayadiningrat. Setelah Sunan Guling wafat digantikan oleh puteranya bernama Tirtakusuma atau Sunan Tuakan (1237 – 1462 ) sebagai raja Sumedanglarang yang keenam.

Prabu Tirtakusumah / Sunan Tuakan memerintah paling lama antara raja-raja Sumedanglarang kurang lebih 155 tahun, dalam pemerintahannya lebih mengutamakan kepada kepentingan ke dalam (Sumedanglarang) sehingga tidak tampak peran politiknya. Pada masa pemerintahan Sunan Tuakan terjadi peristiwa Perang Bubat antara Pajajaran dan Majapahit. Setelah wafat Sunan Tuakan dimakamkan di makam Kp. Heubeul Isuk Desa Cimarias Kecamatan Pamulihan Sumedang, pada kompleks makam Heubeul Isuk terdapat pula makam Prabu Mundingwangi, makam istri Sunan Tuakan dan makam puterinya Ratu Nyi Mas Patuakan ratu Sumedanglarang ketujuh.

makam sunan guling

Makam Sunan Guling di Geger Hanjuang

Sunan Tuakan memiliki tiga putri, yang sulung Ratu Ratnasih alias Nyi Rajamatri diperistri oleh Sri Baduga Maharaja Jaya Dewata (1482 – 1521) Raja Pajajaran yang kelak menurunkan Nyi Mas Cukang Gedeng Waru istri pertama Prabu Geusan Ulun, putri kedua Sunan Tuakan yaitu Ratu Sintawati alias Ratu Nyi Mas Patuakan dan putri ketiga Sari Kencana diperistri oleh Prabu Liman Sanjaya. Kemudian Sunan Tuakan digantikan oleh putrinya yang bernama Ratu Sintawati alias Ratu Nyi Mas Patuakan (1462 – 1530) sebagai raja Sumedanglarang ketujuh, Ratu Sintawati menikah dengan Sunan Corenda atau Batara Sakawayana raja Talaga putera Ratu Simbar Kancana dari Kusumalaya putra Dewa Niskala penguasa Galuh.

Sunan Corenda mempunyai dua orang permaisuri yaitu Ratu Sintawati dari Sumedang dan Ratu Mayangsari puteri Langlang Buana dari Kuningan. Dari pernikahannya dengan Ratu Sintawati mempunyai putri bernama Satyasih atau dikenal sebagai Ratu Inten Dewata setelah menjadi penguasa Sumedang yang bergelar Ratu Pucuk Umun, sedangkan dari Mayangsari memperoleh puteri bernama Ratu Wulansari alias Ratu Parung yang kemudian menikah dengan Rangga Mantri yang dikenal sebagai Sunan Parung Gangsa (Pucuk Umun Talaga) putera Munding Surya Ageung.

Masa pemerintah Ratu Nyi Mas Patuakan atau Ratu Sintawati Sumedanglarang menjadi bawahan kerajaan Pajajaran dan menjadi benteng pertahanan Sunda Pakuan. Pada masa ini kerajaan Galuh dibagi menjadi dua, Galuh Kawali dikuasai oleh Dewa Niskala sedangkan Sunda Pakuan dikuasai oleh Prabu Susuk Tunggal dan pada tahun 1539 agama Islam mulai menyebar di Sumedang. Agama Islam disebarkan oleh Maulana Muhammad alias Pangeran Palakaran / Muhammad, putra dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) keturunan dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah.

batu tajug

Batu Tajug Keraton di Kutamaya

Pangeran Palakaran menikah dengan Nyi Armilah seorang puteri Sindangkasih Majalengka dan hasil pernikahan tersebut pada tanggal 6 bagian gelap bulan jesta tahun 1427 saka (+ 29 Mei 1505 ) lahirlah seorang putra bernama Rd. Solih atau Ki Gedeng Sumedang alias Pangeran Santri. Kelak Pangeran Santri menikah dengan Ratu Inten Dewata puteri dari Nyi Mas Patuakan. Setelah Nyi Mas Patuakan wafat digantikan oleh puterinya Satyasih atau dikenal sebagai Ratu Inten Dewata (1530 – 1578). Pada masa ini pengaruh Islam bergitu kuat menyebar di Sumedang. Putra Pangeran Palakaran yaitu Pangeran Santri datang ke Sumedanglarang untuk menyebarkan agama Islam melanjutkan tugas ayahnya. Pangeran Santri dalam penyebaran Agama Islam mengenalkan Seni Gembyung sebagai media dalam mensyiarkan agama Islam. Pangeran Santri mengembangkan agama Islam dengan menggunakan pendekatan sosial dan budaya sehingga tradisi adat istiadat masyarakat tetap berjalan tanpa menghancurkan nilai-nilai budaya aslinya.

Pangeran Santri menikah dengan Ratu Inten Dewata setelah menikah bergelar Ratu Pucuk Umun (1530 – 1578), yang akhirnya Pangeran Santri menggantikan Ratu Pucuk Umun sebagai penguasa Sumedang, pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 saka (+ 21 Oktober 1530 ) Pangeran Santri dinobatkan sebagai raja Sumedanglarang dengan gelar Pangeran Kusumadinata. Pangeran Santri merupakan murid Sunan Gunung Jati dan Pangeran Santri merupakan penguasa Sumedang pertama yang menganut agama Islam dan berkedudukan di Kutamaya Padasuka sebagai Ibukota Sumedanglarang yang baru, sampai sekarang di sekitar situs Kutamaya dapat dilihat batu bekas fondasi tajug keraton Kutamaya.

Comments are closed.